Thursday, June 24, 2010

PENGANTAR EKONOMI MAKRO

1.1. Pengertian Ilmu Ekonomi

- Ilmu yang mempelajari bagaimana manusia memenuhi kebutuhannya
- Analisis ilmu ekonomi dibagi menjadi 3 (tiga) kelompok yaitu :

a. Descriptive Economics : mengumpulkan keterangan-keterangan faktual yang relevan mengenai suatu masalah/topik tertentu di tempat tertentu dan apa periode tertentu.
b. Economic Theory (Economic Analysis) : menerangkan bekerjanya sistem-sistem perekonomian. Economic Theory dibagi 2 yaitu :
1. Micro Economic Theory
2. Macro Economic Theory
c. Applied Economics : menggunakan hasil-hasil pemikiran yang terkumpul dalam teori ekonomi untuk menerangkan deskripsi fakta-fakta yang dikumpulkan oleh ekonomi deskriptif.


1.2. Ekonomi Makro : Tinjauan Ringkas

Ekonomi Makro : merupakan bagian / cabang dari ilmu ekonomi yang mempelajari aspek-aspek ekonomi dalam scope yang menyeluruh/luas, seperti: tingkat pendapatan nasional, tingkat kesempatan kerja, konsumsi masyarakat, tabungan masyarakat, investasi nasional, jumlah uang beredar, tingkat harga umum, tingkat bunga, necara pembayaran internasional, utang pemerintah dan lain-lain.


1.3. Tujuan Kebijakan Ekonomi Makro

(a) Full employment, kesempatan kerja yang luas
(b) Peningkatan kapasitas produksi nasional yang tinggi
(c) Tingkat pendapatan nasional yang tinggi, economic growth/pert ek
(d) Stabiliti ekonomi : inflasi terkendali, economic stability
(e) Neraca pembayaran yang seimbang
(f) Distribusi pendapatan yang lebih merata, equity

Secara garis besar tujuan kebijakan ekonomi makro ada dua macam yaitu :
1. Untuk mengatasi masalah jangka pendek atau masalah stabilitas. Masalah ini berkaitan dengan bagaimana “mengobati penyakit ekonomi makro” yang biasa dialami oleh suatu negara atau bangsa, yaitu :
• Inflasi
• Pengangguran (unemployment)
• Ketimpangan dalam neraca pembayaran (balance of payment imbalance)

2. Untuk mengatasi masalah jangka panjang atau masalah pertumbuhan (growth). Masalah ini berkaitan dengan bagaimana agar ada keserasian antara pertumbuhan penduduk, kenaikan kapasitas produksi dan tersedianya dana untuk investasi. Pada dasarnya masalahnya juga mencakup ketiga penyakit ekonomi makro di atas, hanya perspektif waktunya adalah lebih panjang (lima tahun, sepuluh tahun, lima belas tahun atau lebih)

Dalam analisis jangka pendek ada beberapa faktor yang dianggap tidak berubah, misalnya : Jumlah penduduk dan angkatan kerja, lembaga-lembaga sosial, politik dan ekonomi yang ada dan sebaginya.


1.4. Pelaku Ekonomi Makro

Dalam teori ekonomi makro kita menggolongkan orang-orang atau lembaga yang melakukan kegiatan ekonomi menjadi lima kelompok besar, yaitu :
(a) Rumah Tangga (households)
(b) Produsen (Producers) contoh : menerima bunga, gaji, upah
(c) Pemerintah (government); Regulator atau pembuat aturan untuk konsumen/produsen
(d) Lembaga-lembaga Keuangan (Financial Institutions); menyediakan kredit dana bagi yang membutuhkannya
(e) Negara-negara lain (Other Countries); menyediakan devisa

Kelompok rumah tangga (konsumen) melakukan kegiatan-kegiatan berupa :
(a) Menerima penghasilan dari produsen dari “penjual” tenaga kerja mereka (upah), dari pemilikan saham (dividen) di perusahaan, dari menyewakan tanah (rent) dan dari keahlian “me-manage” di perusahaan (gaji).
(b) Menerima penghasilan dari lembaga keuangan berupa bunga (interest) atas simpanan-simpanan mereka.
(c) Membelanjakan penghasilan tersebut di pasar barang.
(d) Menyisihkan sisa dari penghasilan tersebut untuk ditabung pada lembaga-lembaga keuangan.
(e) Membayar pajak kepada pemerintah.
(f) Masuk dalam pasar uang sebagai demanders of money karena kebutuhan mereka akan uang tunai untuk misalnya transaksi sehari-hari.

Kelompok produsen melakukan kegiatan-kegiatan berupa :
(a) Memproduksikan dan menjual batang-barang/jasa-jasa.
(b) Meyewa/menggunakan faktor-faktor produksi yang dimiliki oleh kelompok rumah tangga untuk proses produksi.
(c) Menentukan pembelian barang-barang modal dan stok barang-barang lain (selaku investor masuk dalam pasar barang sebagai demanders).
(d) Meminta kredit dari lembaga keuangan untuk membiayai investasi mereka (sebagai demanders di pasar uang)
(e) Membayar pajak.

Kelompok lembaga keuangan (mencakup semua bank kecuali bank sentral/Bank Indonesia) melakukan kegiatan-kegiatan berupa :
(a) Menerima simpanan/deposito dari rumah tangga.
(b) Menyediakan kredit dan uang giral (sebagai supplier dalam pasar uang)

Pemerintah (termasuk di dalamnya bank sentral) melakukan kegiatan-kegiatan berupa :
(a) Menarik pajak
(b) Membelanjakan penerimaan negara untuk membeli barang-barang kebutuhan pemerintah (sebagai demander di pasar barang)
(c) Meminjamkan uang dari luar negeri
(d) Menyewa tenaga kerja (sebagai demander di pasar tenaga kerja)
(e) Menyediakan uang (kartal) bagi masyarakat (sebagai supplier di pasar uang).

Negara-negara lain :
(a) Menyediakan kebutuhan barang impor (sebagai demander di pasar tenaga kerja)
(b) Membeli hasil-hasil ekspor kita (sebagai demander di pasar barang)
(c) Menyediakan kredit untuk pemerintah dan swasta dalam negeri
(d) Membeli barang dari pasar barang untuk kebutuhan cabang perusahaannya di Indonesia (sebagai investor).
(e) Masuk ke dalam pasar uang dalam negeri sebagai penyalur uang (devisa) dari luar negeri (sebagai supplier dana) dan sebagai demanders of loans and rupiah currency untuk kebutuhan cabang-cabang perusahaan mereka di Indonesia (sebagai demander dana). Singkatnya sebagai penghubung pasar uang dalam negeri dengan pasar uang luar negeri.


1.5. Pasar Makro Ekonomi

Dalam teori ekonomi makro dikenal empat macam pasar, yaitu :
(a) Pasar barang
(b) Pasar uang
(c) Paar tenaga kerja
(d) Pasar luar negeri
Secara ringkas hal-hal yang perlu kita ketahui dari empat macam pasar tersebut adalah :



Tabel 1.1
Empat macam pasar di dalam teori ekonomi makro

Empat macam
Pasar Hal-hal yang kita pelajari perilakunya Angka-angka statistik yang kita amati dalam praktek
Pasar Barang • Tingkat harga umum GDP
• Indeks biaya hidup GDP Implisit Defalator-Defalator Statistik GDP dengan harga konstan
Pasar Uang • Tingkat Bunga


• Volumen Uang • Bunga atas deposito
• Bunga atas pinjaman
• Jumlah uang beredar (uang kartal dan giral)
• Kredit yang diberikan oleh bank
Pasar Tenaga Kerja • Tingkat upah rata-rata
• Employment
• Unemployment • Indeks upah di berbagai sektor ekonomi
• Jumlah orang yang bekerja di berbagai sektor jumlah angkatan kerja
• Angkatan kerja minus jumlah orang yang bekerja.
Pasar Luar Negeri • Neraca Perdagangan


• Nilai Tukar (TOT)
• Cadangan Devisa • Statistik neraca perdagangan
• Angka-angka ekspor dan impor
• Statistik dasar tukar
• Statistik cadangan devisa





















II.1. Indikator keberhasilan suatu perekonomian ?

- Diukur dari : meningkatnya pendapatan nasional, produksi nasional, kesempatan kerja, harga-harga terkendali, neraca pembayaran internasional bagus dan lain-lain.
- Tetapi pusat perhatian ekonomi makro adalah : pendapatan nasional (national income).


II.2. Beberapa istilah pendapatan nasional yang perlu kita pelajari dan pahami agar tidak terjadi salah tafsir, yaitu :

a. National Income (NI)
b. Gross Domestic Product (GDP)
c. Gross National Product (GNP)

Penjelasan :
a) NI/National Income : jumlah dari pendapatan faktor-faktor produksi yang digunakan memproduksikan barang-barang dan jasa-jasa dalam suatu kurun waktu tertentu (biasanya satu tahun). Dalam sistem penghitungan NI, jumlah pendapatan itu di namakan Net National Production/NNP at factor price atau di singkat National Income/NI.
b) GDP : Nilai barang-barang dan jasa-jasa yang diproduksikan di dalam negara tersebut dalam suatu kurun waktu tertentu (biasanya satu tahun). Dalam GDP, yang di hitung adalah : seluruh pendapatan penduduk yang tinggal di suatu wilayah negara tertentu, termasuk pendapatan orang-orang/warga asing di wilayah negara tersebut tetapi tidak termasuk pendapatan warga negara yang bersangkutan di luar negeri.
c) GNP : suatu konsep yang mempunyai arti yang bersamaan dengan GDP, tetapi memperhitungkan jenis-jenis pendapatan yang sedikit berbeda. Dalam GNP; yang dihitung adalah : hanya pendapatan warga negara itu sendiri tidak termasuk pendapatan warga negara asing (WNA) di negara tersebut, tetapi termasuk pendapatan warga negara tersebut di luar negeri.

GNP = Angka nominal GDP lebih besar di banding GNP
GDP = GNP – Net Production Factor From Abroad

Dimana :
• NPFA : Pendapatan faktor produksi neto dari luar negeri, yaitu pendapatan faktor-faktor produksi yang di terima dari luar negeri dikurangi dengan pendapatan faktor-faktor produksi yang harus dibayarkan ke luar negeri.


II.3. Metode Penghitungan Pendapatan Nasional

a) Expenditure Method
Menghitung/menjumlahkan nilai barang-barang jadi/barang-barang akhir/ final goods yang dihasilkan dalam suatu perekonomian selama periode tertentu.
 Barang-barang setengah jadi/barang-barang antara/”intermediary goods” yaitu barang-barang yang masih akan di proses lebih lanjut, tidak ikut dihitung agar tidak terjadi “double counting”/penghitungan ganda. Contoh barang-barang ini misalnya : tepung, karet, minyak sawit, barang-barang tenun dan sebagainya.

 Jadi Double Counting dapat dihindari dengan :
• Menghitung final goods saja
• Menghitung value added saja
(VA = output – input)

 Komponen-komponen Expenditure

(i) Pengeluranan konsumsi rumah tangga (c), yaitu pengeluaran yang dilakukan oleh rumah tangga untuk membeli barang-barang kebutuhan sehari-hari dalam suatu periode tertentu (biasanya dalam satu tahun).
• Ada jenis-jenis pengeluaran yang tidak dimasukan kedalam komponen C ini karena mereka bukan merupakan pengeluaran terhadap barang dan jasa yang dihasilkan dalam suatu perekonomian, misalnya : pengeluaran-pengeluaran untuk beli rumah, asuransi, biaya anak yang bersekolah dari orang tua mereka dan sebagainya.

(ii) Pengeluaran pemerintah (goverment expenditure, G), yaitu pengeluaran yang dilaklukan oleh pemerintah untuk membeli barang-barang kebutuhan pemerintah demi melayani kepentingan masyarakat. Misalnya, pengeluaran-pengeluaran untuk pengadaan fasilitas pendidikan/kesehatan, pengadaan TNI/Polri plus gaji mereka, gaji PNS, pengadaan infra struktur (jalan raya, jembatan, pelabuhan, lapangan terbang dan sebagainya).
• Di sini ada dua jenis pengeluaran pemerintah yaitu :
1. Pengeluaran konsumsi pemerintahan seperti : gaji PNS/TNI/ Polri, pembelian alat-alat kantor, bensin untuk kendaran dinas dsb.
2. Pengeluaran investasi pemerintahan seperti : sekolah/ universitas, rumah sakit, irigasi, jalan raya dan sebagainya.
• Di samping itu juga ada jenis-jenis pengeluaran yang tidak dimasukan ke dalam komponen G ini karena mereka bukan merupakan pengeluaran untuk membeli barang dan jasa seperti pengeluaran-pengeluaran untuk : bea siswa, bantuan korban bencana alam, subsidi perusahaan dan sebagainya.


(iii) Pengeluaran yang dilakukan oleh sektor swasta/perusahaan (investment, I) misalnya pengeluaran untuk membangun gedung/pabrik/ industri, pengeluaran untuk membeli alat-alat produksi dan sebaginya.
(iv) Ekspor Neto (nilai ekspor (X) – nilai impor (M) suatu negara dalam periode tertentu.

Catatan :
 Barang-barang impor merupakan produksi dari negara lain, oleh karena ekspor neto saja yaitu (X – M).
 Dalam penghitungan NI menurut metode “Expenditure” terdapat beberapa sifat hubungan sebagai berikut :

• NDP = GDP – DEPRESIASI
• GNP = NNP + DEPRESIASI atau NNP = GNP – DEPRESIASI
• INVESTASI NETO = INVESTASI BRUTO – DEPRESIASI
• NATIONAL INCOME = NNP – Pajak Tak Langsung
• GDP = GNP – NPFA


b) (Net) Production atau (Net) Output Method : menghitung valueadded yang dihasilkan oleh masing-masing sektor perekonomian. Jadi, menurut metode ini, yang dihitung adalah nilai akhir dari barang-barang dan jasa-jasa yang dihasilkan oleh masing-masing sektor ekonomi selama periode tertentu. (persis sama dengan metode expenditure). Secara sistematis, menghitung pendapatan nasional dengan metode production dapat dinyatakan sebagai berikut :

NI = P1Q1 + P2Q2 + ……………… + PnQn …………….. (1.1)

Atau
NI = Pi Qi ………………………………………………… (1.2)

Dimana :
• NI : Pendapatan Nasional (National Income)
• Pi : Harga Satuan Produk ke 1
• Qi : Produk ke 1

Ini mengandung arti bahwa pendapatan nasional besarnya sama dengan produk nasional atas dasar harga pasar.

c) Income Method : menghitung/menjumlahkan semua pendapatan yang diterima oleh faktor-faktor produksi yang ada dalam suatu perekonomian dalam kurun waktu tertentu, yang mencakup :

1. Pendapatan para pekerja (upah/gaji)
2. Pendapatan dari perusahaan perorangan (gaji, sewa, upah, bunga, laba)
3. Pendapatan dari sewa
4. Bunga neto (seluruh nilai pembayaran bunga yang dilakukan dikurangi dengan bunga atas pinjaman konsumsi dan bunga atas pinjaman pemerintah.
5. Laba perusahaan

Secara sistematis hal tersebut dapat diformulasikan sebagai berikut :

Yat factor = Yw + Yr + Yi + Yp ……………………………………(1.3)

Dimana :
• Yw = upah dan gaji
• Yr = sewa
• Yi = bunga neto
• Yp = laba

Catatan :
• Bunga atas pinjaman konsumsi (misalnya pinjaman uang membeli mobil) dan bunga atas pinjaman pemerintah (misalnya bunga yang dibayar oleh pemerintah atas hutang pemerintah kepada masyarakat). Ini kita kategorikan sebagai transfer pemerintah adalah jenis bunga yang digunakan bukan untuk kegiatan produktif. Oleh sebab itu mereka tidak dimasukan ke dalam penghitung pendapatan nasional.


II.4. Perkiraan Pendapatan dan Produk Nasional

Perkiraan pendapatan dan produk nasional merupakan rekening atau account yang memuat di satu sisi komponen-komponen pendapatan nasional dan di sisi lain komponen-komponen produk nasional. Lihat Tabel 2.1 di bawah ini :

Tabel 2.1
Perkiraan pendapatan dan produk nasional

Wages and salaries Rp. ……..
Rent Rp. ……..
Interest Rp. ……..
Profit Rp. ……..
National Income at Rp. ……..
Factor

+ Companies Transfer Rp. ……..
+ Indirect tax Rp. ……..
- Subsidy Rp. ……..
+ Depreciation Rp. ……..
national income at market
price Rp. ……..
Consumption Expenditure Rp. ……..
Investment Expenditure Rp. ……..
Government Expenditure Rp. ……..
Net Export Rp. ……..








National product at market Rp. ……..
Price


II.5. Transaksi yang dihitung dan yang tidak dihitung

Sering kali keputusan mengenai apa yang dihitung dan apa yang tidak ke dalam pendapatan nasional, dibuat secara arbitrary, sehingga lain negara lain pula keputusannya. Untuk inilah perlunya sebuah badan internasional yang akan menyeragamkan perhitungan-perhitungan seluruh dunia. Kita perlu mempunyai hasil perhitungan yang dapat diperbandingkan satu sama lain. Namun demikian masih juga ada persolan apakah masing-masing negara tunduk pada ketentuan-ketentuan badan internasional ini. Nyatanya banyak yang tidak.

(a) Transaksi-transaksi yang dihitung mencakup :
1. Pengeluaran konsumsi rumah tangga (konsumsi, C)
2. Pengeluaran oleh perusahaan/sektor swasta untuk mendirikan dan mengembangkan usahanya (investasi, I), yang terdiri dari : pengadaan barang-barang modal (seperti mesin-mesin produksi, bangunan pabrik, bangunan kantor, alat-alat investaris kantor, kendaraan dan lain-lain), persediaan bahan-bahan mentah dan persediaan barang-barang jadi dan setengah jadi.
3. Pengeluaran pemerintah (government, G) yaitu pengeluaran yang dilakukan oleh pemerintahan untuk membeli/mengadakan barang-barang keperluan pemerintah. Pengeluaran ini terdiri dari dua macam yaitu pengeluaran konsumsi pemerintahan seperti gaji PNS/TNI/Polri, pengadaan gedung-gedung/kantor pemerintahan, pengadaan alat-alat transportasi/kendaraan bagi pejabat dan lain-lain. Dan pengeluaran investasi pemerintah seperti jalan raya, jembatan, pelabuhan, irigasi, rumah sakit, sekolah-sekolah atau investaris dan lain-lain.
4. Perdagangan luar negeri yaitu ekspor dan impor (X – M) barang-barang dan jasa-jasa yang dihitung adalah ekspor neto (nilai ekspor-nilai impor ) saja.

Secara sederhana : Y = C + I + G + ( X – M )
Dimana

• Y = National Income atau Pendapatan Nasional

(b) Transaksi-transaksi yang tidak dihitung mencakup :

1. Transfer Payment (pembayaran pindahan, Tr) yaitu sejumlah uang yang diberikan/dipindahkan dari kantong yang satu misalnya dari pemerintah atau perusahaan ke kantong yang lain misalnya penduduk tanpa berproduksi dan atau tanpa balas jasa. Misalnya pensiun, subsidi, lotere, bunga atas hutang pemerintah, hadiah, warisan, sumbangan bencana alam, sumbangan untuk orang-orang cacat/jompo, beasiswa dan pembayaran untuk barang-barang yang dibuat pada tahun-tahun sebelumnya.
2. Kenaikan dan penurunan nilai barang-barang modal karena inflasi dan depresi. Ini disebut Capital gains and losses.
3. Kegiatan-kegiatan ilegal seperti penyeludupan barang-barang dagangan, produksi narkoba danperbuatan-perbuatan lain yang terlarang meskipun secara teknis mungkin dapat digolongkan ke dalam perbuatan berproduksi.
4. Kegiatan-kegiatan yang karena alasan praktis tidak dihitung seperti jasa nyonya rumah mencuci pakaian, memasak dan memberihkan rumah. Kalau nyonya rumah itu mencucikan pakaiannya ke tukang cuci komersil, maka perbuatannya itu dihitung dalam perhitungan sektor jasa-jasa.


II.6. Menghitung Pendapatan Nasional (contoh kasus di Indonesia)

(a) Expenditure Method


No
Jenis Pengeluaran Harga Berlaku Tahun 1991 Harga Konstan Tahun 1983
1 Pengeluaran Konsumsi RT 125.142,9 66.707,2
2 Pengeluaran Konsumsi Pemerintah 20.135,4 12.135,8
3 Pembentukan Modal Swasta Bruto 61.059,5 33.537,2
4 Perubahan Stok (persediaan) 18.595,5 641,4
5 Ekspor barang dan jasa 62.322,2 35.537,2
6 Dikurangi : impor barang dan jasa 60.818,8 122.705,0
7 Produk Domestik Bruto (GDP) 227.162,8 122.705,0
8 Pendapatan faktor dari LN (10.760,3) (4.473,1)
9 Produk Nasional Bruto (GNP) 216.402,5 118.231,9
10 Dikurangi : Pajak Tak Langsung 16.152,1 9.182,6
11 Dikurangi : Depresiasi 11.227,9 6.043,7
PENDAPATAN NASIONAL 189.022,5 103.005


(b) Production Method

Seperti telah diterangkan di muka, pendapatan nasional yang dihitung menurut metode produksi, dilakukan dengan cara menjumlahkan nilai tambah atau value added yang dihasilkan oleh masing-masing sektor (lapangan usaha) dalam perekonomian di Indonesia. Penghitungan seperti ini dilakukan dengan membagi kegiatan-kegiatan dalam perekonomian menjadi 11 lapangan usaha yang utama, yaitu seperti yang ditujukan dalam Tabel 2.2 dibawah ini :

Tabel 2.2
Produk Domestik Bruto menurut Lapangan Usaha tahun 1991 (dalam milyar rupiah)


No
Lapangan Usaha Harga berlaku Tahun 1991 Harga tetap Tahun 1983
1 Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan 44.214,4 22.657,2
2 Pertambangan dan Penggalian 30.901,4 19.108,2
3 Industri Pengolahan 48.335,9 24.461,2
4 Listrik, Gas dan Air Minum 1.575,0 842,8
5 Bangunan 12.855,8 7.403,3
6 Perdagangan, hotel dan Restauran 37.726,2 19.557,3
7 Pengangkutan dan Komunikasi 13.467,3 6.816,2
8 Bank dan lembaga keuangan lainnya 10.083,9 5.517,2
9 Sewa rumah 5.924,7 3.119,7
10 Pemerintah dan pertahanan 14.621,6 9.030,1
11 Jasa-jasa lain 7.452,6 4.191,8
PRODUK DOMESTIK BRUTO 227.162,8 122.702,0

(c) Income Method
Dilakukan dengan menghitung jenis-jenis pendapatan yang diterima oleh faktor-faktor produksi yang ada di dalam suatu perekonomian. Seperti upah, gaji, sewa, bunga neto dan laba. Di Indonesia belum ada data yang akurat mengenai jumlah pendapatan yang diterima oleh faktor-faktor produksi tersebut. Oleh karena itu contoh perhitungannya tidak ada


II.7. Menghitung Tingkat Inflasi

Tingkat inflasi menggambarkan perubahan harga-harga dalam suatu tahun tertentu. Untuk menentukan tingkat inflasi, perlu diperhatikan data indeks harga konsumsn dari suatu tahun dan seterusnya dibandingkan dengan indeks harga pada tahun lainnya. Secara matematis, formula untuk menghitung tingkat inflasi pada suatu tahun tertentu adalah :

ROI = x 100 %

Dimana :
• ROI = Tingkat inflasi pada tahun tertentu
• CPIO = Indeks harga konsumen pada tahun 0
• CPI1 = Indeks harga konsumen pada tahun 1

Contoh :
Diketahui CPI tahun 1993 – 240 dan CPI tahun 1994 = 251, maka ROI tahun 1994 adalah …

Penyelesaian :
Menggunakan rumus tingkat inflasi (II.7)
ROI = x 100 % = 4,6 %


II.8. Menghitung Tingkat Pertumbuhan Ekonomi

(a) Tingkat pertumbuhan ekonomi menurut harga konstan yaitu harga-harga barang/jasa yang berlaku pada tahun dasar yang dipilih. Secara matematis, formulasi adalah :
ROG = x 100 %

Dimana :
• ROG = Rate of growth (tingkat pertumbuhan ekonomi)
• Nir0 = Pendapatan nasional riil pada tahun dasar
• Nir1 = Pendapatan nasioanl riil pada tahun dimana ROG dihitung

Contoh :
Diketahui : - Pendapatan nasional pada tahun 1992 = 120,2 (trilyun rupiah)
- Pendapatan nasional pada tahun 1993 = 128,8 (trilyun rupiah)

Penjelasan :
Menggunakan rumus tingkat pertumbuhan (II.8)

Maka ROG tahun 1993 = x 100 % = 7%

(b) Tingkat pertumbuhan ekonomi menurut harga-harga yang berlaku. Ini harus dilakukan dengan dua tahap yaitu : menghitung pendapatan nasional riil dengan mendeflasikan pendapatan nasional pada harga masa kini dan menghitung ROG.

Secara matematis, hal tersebut dapat diformulasikan sebagai berikut :

Nir1= x NI masa kini


Dimana :
• Niri = Pendapatan nasional riil pada tahun I
• CPIi = Indeks harga konsumen pada tahun I
• CPI0 = Indeks harga konsumen pada tahun 0
• NI masa kini = Pendapatan nasional pada harga masa kini

Contoh :
Pada tahun 1992 GDP menurut harga yang berlaku bernilai Rp. 198,5 trilyun pada tahun 1993 nilainya telah menjadi Rp. 225,7 trilyun. Indeks harga konsumen tahun 1992 adalah 152 dan dalam tahuh 1993 indeks harga konsumennya adalah 16. Hitunglah ROG tahun 1993!

Penyelesaian :

• Tahap I

Nir 1993 = x NI 1993

= x Rp. 225,7 trilyun = Rp. 214,4 trilyun


• Tahap II

ROG1993 = x 100%

= x 100%

= 8 %



A. ESSEI

1. Berikan definisi istilah ekonomi berikut :
a. Pendapatan nasional
b. Pengeluaran konsumsi
c. Pengeluaran investasi
d. Subsidi perusahaan

2. Sebutkan ketiga macam pendekatan perhitungan pendapatan nasional dan uraikan ketiga pendekatan tersebut!

3. Jelaskan perbedaan antara :
a. GDP dan CNP
b. Investasi bruto dan investasi neto
c. Pendapatan nasional atas biaya dan pendapatan nasional atas harga pasar
d. Produk nasional pada harga berlaku dan produk nasional pada harga konstan

B. KUANTITATIF

1. Susunlah perkiraan pendapatan dan produk nasional dengan data berikut ini (dalam satuan trilyun rupiah)

• Ekspor = 2,9
• Upah dan gaji = 7,9
• Pajak tidak langsung = 1,0
• Impor = 1,7
• Sewa = 0,5
• Subsidi = 1,8
• Pengeluaran konsumsi = 8,3
• Bunga = 0,4
• Penyusutan = 0,6
• Investasi = 2,9
• Laba = nilai residu (angkanya masih
harus dihitung)
• Pengeluaran konsumsi pemerintah = 1,7
• Transfer pemerintah = 0,4


2. Pendapatan nasional menurut harga yang berlaku diantara tahun 1990 – 1993 dan indeks harga pada tahun yang sama adalah sebagai berikut :

Tahun Pendapatan nasional menurut harga yang berlaku (trilyun rupiah) Indeks harga konsumen
1990 150,457 148,1
1991 170,794 160,2
1992 185,471 170,4
1993 200,343 180,9

Hitunglah :
a. Tingkat inflasi dalam tahun 1991, 1992 dan 1993
b. Pendapatan nasional riil pada tahun 1991, 1992 dan 1993. Apabila tahun 1990 digunakan sebagai tahun dasar
c. Hitunglah tingkat pertumbuhan dalam tahun 1991, 1992 dan 1993







III.1. Variabel-variabel Ekonomi Agregratif Dalam Perekonomian Tertutup Sederhana

Seperti telah diterangkan dalam sub bab I.4. bahwa pelaku-pelaku dalam suatu perekonomian terdiri dari empat kelompok : rumah tangga, perusahaan, pemerintah dan luar negeri. Sedangkan dalam perekonomian tertutup sederhana, diasumsikan hanya ada dua pelaku ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah seperti pemungutan pajak, pembayaran transfer pemerintah, ataupun yang berbentuk pengeluaran pemerintah, maupun hubungan ekonomi luar negeri khususnya ekspor dan impor. Dalam perekonomian tertutup sederhana ini, pengeluaran seluruh masyarakat pada tiap tahunnya terdiri dari pengeluaran untuk konsumsi rumah tangga dan pengeluaran untuk investasi. Pengeluaran total masyarakat sekaligus juga merupakan pendapatan masyarakat itu juga. Secara matematis hal ini dapat diformulasikan sebagai berikut :

C = Co + bY ……………………………………………………. (3.1)

Dimana :
• C = besarnya pengeluaran konsumsi masyarakat pada periode tertentu
• C = besarnya pengeluaran pada pendapatan nasional (Y) sebesar nol
• B = marginal propensity to consume / MPC

MPC disini merupakan angka perbandingan antara besarnya perubahan konsumsi dengan besarnya perubahan nasional yang menyebabkan adanya perubahan konsumsi tersebut. Secara sistematis, hal ini dapat diformulasikan sebagai berikut :

MPC = b =  C/ Y …………………………………………… (3.2)


III.2. Hubungan antara Fungsi Konsumsi, MPC dan APC

C = (APCn – PMC) Yn + MPC Y ………………………………. (3.3)
APCn = Cn / Yn ………………………………………………….. (3.4)

(APCn = average propensity to consume pada tingkat pendapatan nasional sebesar “n”)

Contoh :
Pada tingkat pendapatan nasional per tahunnya sebesar Rp. 100 milyar, besarnya konsumsi sebesar Rp. 95 milyar per tahun. Dan pada tingkat pendapatan nasional sebesar Rp. 120 milyar per tahun, besarnya konsumsi per tahunnya sebesar Rp. 110 milyar.


Diminta :
a. Diketahui : - APC 100 = C100 / Y 100 = 95/100 = 0,95
- APC 120 = C120 / Y 120 = 110/120 = 0,92
C = (APCn – MPC) Yn + MPC . Y
= (0,95 – 0,75) 100 + 0,75 Y
= 0,20 x 100 + 0,75 Y
= 20 + 0,75 Y

b. BEP .. ? Y = C atau Y – C =0
Y = (20 + 0,75Y) = 0
Y = (20 – 0,75 Y) = 0
0,25Y = 20
= 80


III.3. Fungsi Saving

S = Y – C …………………………………………………… (3.5)
S = - Co + (1 – b) Y………………………………………… (3.6)

Contoh :
Diketahui fungsi konsumsi : C = 20 + 0,75 Y. Carilah fungsi savingnya !

Penyelesaian :
S = - Co + (1 – b) Y
= -20 + (1 – 0,75) Y
= -20 + 0,25 Y


III.4. Hubungan antara MPC, APC, MPS dan APS

MPS =  S / Y …………………………………………….. (3.5)
APS = S/Y ……………………………………………………(3.6)
(MPS = marginal propensity to save, APS = average propensity to save)
MPC + MPS = 1 ……………………………………………. (3.7)
APC + APS = 1 …………………………………………….. (3.8)

Contoh :
Fungsi konsumsi suatu masyarakat mempunyai persamaan sebagai berikut :
C = 0,75 + 20 milyar rupiah

Hitunglah besarnya konsumen, tabungan, APC, APS, MPC dan MPS untuk beberapa tingkat pendapatan nasional!


Penyelesaian :

Tingkat Pendapatan Nasional
Yn* Konsumsi Cn* Saving Sn* APCn= Sn/Yn APSn= Sn/Yn MPCn =
Cn¬+1-Cn
Yn+1-Yn MPSn =
Sn¬+1-Sn
Yn+1-Yn

0
20
40
60
80
10
12
140
16
18
200

20
35
50
65
80
95
110
125
140
155
170
-20
-15
-10
-5
-0
+5
+10
+15
+20
+25
+30
-
1,75
1,25
11/12
0
0,95
11/12
25/28
0,875
31/36
17/20
-
-0,75
-0,25
-11/12
0
+0,5
+1/12
+3/28
+0,125
+5/36
+3/20
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75

0,25
0,25
0,25
0,25
0,25
0,25
0,25
0,25
0,25
0,25
0,25
* dalam milyar rupiah

Dari tabel di atas kita dapat menyaksikan bahwa :
(a) APCn + APSn = 1
(b) MPCn + MPSn = 1
(c) Oleh karena fungsi konsumsinya berbentuk garis lurus, maka fungsi savingnya juga berbentuk garis lurus. Hal ini menyebabkan tingginya MPC serta MPS pada setiap tingkat pendapatan nasional adalah sama, yaitu 0,75 untuk MPC dan 0,25 untuk MPS.
(d) Dikarenakan nilai intersep fungsi konsumsi adalah a adalah positif (yang berarti bahwa pada tingkat pendapatan nasional sebesar nol nilai pengeluaran konsumsi sebesar a dan besar saving sebesar minus a) dan baik MPC maupun karenanya juga MPS masing-masing mempunyai nilai yang positif dan tidak berubah-ubah, maka nilai APC nya masing-masing mempunyai nilai yang positif dan tidak berubah-ubah, maka nilai APCnya terus bertambah kecil dengan meningkatnya pendapatan nasional. Sebaliknya nilai APS terus meningkat dengan meningkatnya pendapatan nasional.

A. ESSEI

1. Buktikan bahwa MPC + MPS = 1 dan APC + APS = 1!
2. Berikan definisi istilah-istilah ekonomi sebagai berikut :
a. Fungsi konsumsi
b. Fungsi tabungan
c. Intersep konsumsi
d. Intersep tabungan
e. Tingkat pendapatan nasional BEP
f. Kesediaan konsumsi marginal

B. KUANTITATIF

1. Lengkapilah titik-titik yang ada di dalam tabel di bawah ini dengan benar dan berikan penjelasan cara-caranya!

Tingkat Pendapatan Nilai
Konsumsi (C) Nilai
APC Nilai Saving (S) Nilai
APS

600
800
……………i)
……………m)
……………q)
……………u)

……………a)
……………e)
170
……………n)
……………r)
……………v)
……………b)
……………f)
……………j)
1,1
……………s)
……………w)
……………c)
……………g)
……………k)
……………o)
100
……………x)
……………d)
……………h)
……………l)
……………p)
……………t)
0,06








IV.1. Pengantar

Ada tiga macam fungsi pokok kebijakan anggaran belanja negara yaitu :
a. Fungsi alokasi = (mengalokasikan faktor-faktor produksi yang tersedia di dalam masyarakat sedemikian rupa sehingga kebutuhan masyarakat yang berupa public goods, seperti keamanan, pendidikan, jalan-jalan, jembatan-jembatan, taman-taman, tempat-tempat beribadah dan sebagainya cukup terpenuhi.
b. Fungsi distribusi (= yang pada pokoknya mempunyai tujuan berupa terselenggaranya pembagian pendapatan nasional yang adil dan merata.
c. Fungsi stabilitas (= yang pada umumnya bertujuan untuk memperluas kesempatan kerja, menstabilkan harga dan memelihara tingkat pertumbuhan ekonomi yang cukup memadai.
Pembicaraan mengenai kebijakan fiskal disini hanya terbatas pada fungsi ketiga, yaitu fungsi stabilisasi.


IV.2. Pengertian Kebijakan Fiskal (Fiscal Policy)

Kebijakan fiskal atau politik fiskal adalah suatu tindakan yang diambil oleh pemerintah dalam bidang anggaran belanja negara dengan maksud untuk mempengaruhi jalannya perekonomian.
Dengan melalui kebijakan fiskal, pemerintah dapat mempengaruhi variabel-variabel ekonomi makro seperti tingkat pendapatan nasional, tingkat kesempatan kerja, tinggi rendahnya investasi nasional, distribusi pendapatan nasional dan sebagainya.
Disini kita hanya akan membahas kebijakan fiskal yang bertujuan untuk mempengaruhi pendapatan nasional.


IV.3. Komponen daripada Anggaran Belanja Negara

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara kita adalah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Adapun komponen-komponennya adalah :
1. Penerimaan dalam negeri (disini diasumsikan hanya terdiri dari pajak)
2. Pengeluaran rutin (pengeluaran untuk gaji PNS/TNI/Polri, pengeluaran untuk konsumsi pemerintah seperti pengeluaran untuk pembangunan gedung-gedung atau kantor pemerintah, biaya pemeliharaan gedung dan sebagainya.
3. Tabungan pemerintah (selisih antara penerimaan dan pengeluaran)
4. Bantuan luar negeri (yang berupa bantuan pokok dan bantuan program)
5. Dana pembangunan
6. Pengeluaran pembangunan (yang berupa rupiah dan bantuan proyek)

Pengertian Pajak adalah uang atau daya beli yang diserahkan oleh masyarakat kepada pemerintah dimana terhadap penyerahan uang/daya beli tersebut pemerintah tidak memberikan balas jasa yang berlangsung.


IV.4. Analisis Kebijakan Fiskal dalam Sistem Perpajakan yang Sederhana

a. Fungsi Konsumsi dan Fungsi Tabungan dengan adanya Tindakan Fiskal Pemerintah

C = Co + b Yd ……………………………………………………….. (4.1)
S = - Co + (1 – b ) Yd ………………………………………………. (4.2)
Dimana : Yd = Y + Tr – Tx …………………………………………. (4.3)

Contoh :
Diketahui fungsi konsumsi C = 20 + 0,75 Yd.
Tr = 40
Tx = 20

Ditanya :
a) Bentuklah dan gambarkanlah fungsi konsumsi sebelum adanya Tr dan Tx!
b) Bentuklah dan gambarkanlah fungsi konsumsi sesudah adanya Tr dan Tx!

Penyelesaian :
a) Yd = Y + Tr + Tx = Y + 0 + 0 = Y
C = 20 + 0,75 Y

b) C = 20 + 0,75 (Y + 40 – 20)
= 20 + 0,75 Y + 15 = 35 + 0,75

Lihat Gambar atau Grafik di bawah ini :
a. Sebelum ada Tr dan Tx
C = 20 + 0,75 Y
Y = 0  C = 20 + 0,75.0 = 20
C = 0  0 = 20 + 0,75 Y  -0,75 Y = 20  Y = -26,6

b. Sesudah Tr dan Tx
C = 35 + 0,75 Y
Y = 0  C = 35 + 0,75 = 35
C = 0  0 = 35 + 0,75 Y
-0,75 Y = 35
Y = -46,6
























-46,6 -26.6 0



Gb. Sebelum ada Tr dan Tx dan sesudah ada Tr dan Tx


A. ESSEI

1. Berikan definisi untuk setiap pengertian ekonomi berikut :
a. Kebijakan ekonomi
b. Kebijakan fiskal
c. Barang publik
d. Barang pribadi/private goals
e. Pajak
f. Pengeluaran pembelian pemerintah
g. Transfer pemerintah

2. Uraikan mengenai ketiga fungsi pokok kebijakan fiskal!

3. Uraikan tentang anggaran belanja negara dengan tidak melupakan untuk menyebutkan semua komponennya!








V.1. Perekonomian tertutup dengan campuran tangan pemerintah

• Suatu perekonomian yang terdiri dari 3 (tiga) sekor, yaitu sektor rumah tangga (c), sektor perusahaan (I) dan sektor pemerintah (G).

Y = C + I + G …………………………………. (IV)

• Dalam perekonomian tertutup dengan campur tangan pemerintah, pendapatan nasional. Kesimbangan dapat dicari dengan dua cara, yaitu:
(I) Y = C + I + G
(II) I + G + Tr = S + Tx

Injection Leakages

Dimana :
(S + Tx) adalah saving dan pajak (bruto) yang dalam perekonomian disebut “Leakages” (kebocoran), yaitu bagian dari pendapatan nasional yang belum dibelanjakan.

Contoh :
1. Ketahui : Fungsi konsumsi : C = 0,75 Yd + 20
Investasi : I = 40
Pajak : Tx = 20
Pengeluaran pemerintah : G = 60
Transfer pemerintah : Tr = 40

Penyelesaian :
a. Pendapatan nasional equilibrium : Y = C + I + G
Y = (0,75 Yf + 20) + (40) + (60)
Dimana : Yd = Y + Tr – Tx
= Y + 40 – 20
= Y + 20
Y = 0,75 (Y + 20) + 20 + 40 + 60
= 0,75 Y + 15 + 120
= 0,75 Y + 135
0,25 Y = 135
Y = 540

b. Konsumsi equilibrium : C = 0,75 Yd + 20
C = 0,75 (Y + 20) + 20
= 0,75 (540 + 20) + 20
= 0,75 (560) + 20 = 440


c. Saving equilibrium : S = Yd = - C atau S = - Co + (1 – b) Yd
S = (Y + 20) – (C)
= (540 + 20) – (440)
= (560 – 440
= 120

d. Bukti bahwa : I + G + Tr = S + Tx
40 + 60 + 40 = 120 + 20
140 = 140


V.2. Angka Penggandaan (MULTIPLIER)

Multiplier adalah suatu angka yang menunjukkan perbandingan antara jumlah kenaikan atau penurunan dalam pendapatan nasional dengan jumlah kenaikan atau penurunan dalam pengeluaran agregat yang telah menimbulkan perubahan dalam pendapatan tersebut.

Macam-macam multiplier sebagai berikut :
(1) Angka pengganda investasi : KI + =

(2) Angka pengganda konsumsi : KC + =

(3) Angka pengganda pengeluaran pemerintah : KG + =

(4) Angka pengganda transfer pemerintah : KTr + =

(5) Angka pengganda pajak : KTx + =

(6) Angka pengganda anggaran belanja yang seimbang : KB =


Contoh :
1. Periode sebelum tahun 1972 :
a) Besarnya investasi : I = 40
b) Konsumsi pemerintah : G = 60
c) Transfer pemerintah : Tr = 40
d) Pajak : Tx = 20

2. Periode sesudah tahun 1972
a) Investasi : 50
b) Konsumsi pemerintah : 60
c) Transfer pemerintah : 60
d) Pajak : 40

3. Fungsi konsumsi per tahun : C = 0,75 Yd + 20

Penyelesaian :
1. Besarnya Pendapatan Nasional Equilibrium sesudah tahun 1972 (periode ke dua)
Y2 = Y1 + Y
Dimana :
- Y2 = sesudah tahun 1972
- Y1 = sebelum tahun 1972
- Y = kenaikan Y

 Y1 = C + I + G
= 0,75 Yd + 20 + 40 + 60 Yd = Y1 + 40 - 20
= 0,75 (Y1 + 20) + 120 = Y1 + 20
= 0,75 Y1 + 15 + 120
= 0,75 Y1 + 135
0,25 Y1 = 135
Y1 = 540

 KI = = = = 4
 KG = = = 4
 KTr = = = 3
 KTx = = = -3

KI = KG = KTr = KTx =
4 = 4 = 3 = -3 =
4 = 4 = 3 = -3 =
Y = 40 Y = 0 Y = 60 Y = -60

Y2 = 540 + (40 + 0 + 60 – 60)
= 540 + (40)
= 580
2. Besarnya konsumsi equilibrium sesudah tahun 1972
C2 = C1 + b Yd

Dimana :
- C2 = konsumsi sesudah tahun 1972
- C1 = konsumsi sebelum tahun 1972

 C1 = 0,75 Yd + 20
= 0,75 (540 + 40 – 20) + 20
= 0,75 x 560 + 20
= 440

 Yd = (Y2 + Tr2 + Tx2) – ( Y1 + Tr1 + Tx1)
= (580 + 60 – 40 ) – (540 + 40 – 20)
= (600) – (560)
= 40
C2 = 440 + 0,75 (40)

3. Besarnya saving equilibrium sesudah 1972
S2 = S1 + (1 – b)  Yd

Dimana :
- S2 = saving sesudah 1972
- S1 = saving sebelum 1972

 S1 = Yd – C1
= (540 + 40 – 20) – 440
= 120

S2 = 120 + (0,25) . 40
= 130

Bukti :
I + G + Tr = S + Tx
50 + 60 + 60 = 130 + 40
170 = 170







VII.1. Pengantar

Perekonomian terbuka adalah suatu perekonomian yang terdiri dari empat (4) sektor yaitu : Rumah Tangga, Produsen, Pemerintah dan Luar Negeri.

Y = C + I + G + (X – M) ………………………………………….(7.1)

Dimana : X = nilai ekspor
M = nilai impor
Oleh karena : Y = C + S
Maka : C + S = C + I + G + (X – M)
S + M = I + G + X ……………………………………………….(7.2)

Persamaan (7.2) mempunyai makna bahwa syarat equilibriumnya perekonomian ialah kesamaan (S+M) dengan (I+G+X). Saving (S) tidak lagi harus sama dengan investasi (I). Demikian pula nilai ekspor tidak perlu sama dengan nilai impor. Perekonomian yang tengah memiliki neraca perdagangan dimana X > M, akan mencapai keadaan equilibrium justru dimana I < S, demikian pula sebaliknya.

Dalam model ini, pengeluaran investasi dan ekspor keduanya diperlakukan sebagai variabel eksogen, sedangkan S dan M masing-masing diperlakukan sebagai variabel endogen dengan persamaan-persamaan sebagai berikut :

S = - Co + (I – b) Y ………………………………………………(7.3)
M = M0 + mY ……………………………………………………..(7.4)

Dimana :
M = besarnya impor
Mo = besarnya impor pada tingkat pendapatan nasional nol
m = = marginal propensity to impor (MPI)

Contoh :
Diketahui : fungsi tabungan : S = -40 + 0,3Y
fungsi impor : M = 20 + 0,2 Y
pengeluaran investasi : I = 280
ekspor : X = 100

Pertanyaan :
a. Pendapatan nasional equilibrium?
b. Tabungan equilibrium?
c. Impor equilibrium?

d. Konsumsi equilibrium?
e. Neraca perdagangan equilibrium?

Penyelesaian :
a. Pendapatan nasional equilibrium : Y = C + I + G + X – M
Y = (40 + 0,7Y) + (280) + (0) + (100) – (20 + 0,2 Y)
Y = 40 + 0,7 Y + 280 + 100 – 20 – 0,2Y
Y = 400 + 0,50 Y
0,5Y = 400
Y = 800

b. Tabungan equilibrium : S = -40 + 0,3 Y
= -40 + 0,3 . 800
= -40 + 240 = 200

c. Impor equilibrium : S = 20 + 0,2 Y
= 20 + 0,2 . 800
= 20 + 160 = 180

d. Konsumsi equilibrium : Y = C + I + G + X – M
800 = C + 280 + 0 + 100 – 180
800 – 280 – 100 + 180 = C
600 = C
C = 600

e. Nilai perdagangan equilibrium : X = 100, M = 180 karena X < M = 100 < 180 defisit neraca perdagangan


VII.2. Angka-angka Pengganda

Angka pengganda untuk perekonomian terbuka disebut angka pengganda perdagangan luar negeri (foreign trade multiplier)

1. Angka pengganda ekspor : KFX = =
2. Angka pengganda investasi : KFI = =
3. Angka pengganda autonomous saving : KF-Co = =
4. Angka pengganda autonomous import : KFMo = =


Contoh :
Diketahui :
a. Mula-mula perekonomian dalam keadaan equilibrium dengan eskpor neto sebesar Rp. 10 milyar per tahun
b. Fungsi tabungan : S = -40 + 0,3 Y
c. Fungsi impor : M = 20 + 0,2 Y

Apabila : (a) pengeluaran investasi bertambah dengan Rp. 40 milyar nilai ekspor tidak mengalami perubahan, (b) nilai ekspor bertambah dengan Rp. 40 milyar, pengeluaran investasi tidak mengalami perubahan, (c) investasi bertambah dengan Rp. 20 milyar dan ekspor bertambah dengan Rp. 20 milyar dan ekspor bertambah dengan Rp. 20 milyar.

Pertanyaan :
Berapakah besarnya ekspor neto atau impor neto setelah kejadian-kejadian (a), (b) dan (c) ?

Penyelesaian :

Terlebih dahulu kita hitung angka-angka penggandanya
(1) Angka pengganda investasi :
KFI = = = 2
(2) Angka pengganda ekspor
KFX = = = 2
a. Perubahan nilai impor akibat perubahan pengeluaran investasi :
 I = 40  = KFI
= 2

Y = 80
M = mY  M = 0,2 . 80 = 16

Ekspor neto yang baru : (Xo – Mo) + ( X - M)
= (10 – 0 ) + (0 – 16)
= -6

b. Perubahan nilai impor akibat perubahan nilai ekspor :
X = 40  M = = = 16



Ekspor neto yang baru : (Xo – Mo) + (X - M)
= (10 – 0) + (40 – 16)
= 34 (SMU)

c. Perubahan nilai impor akibat kenaikan ekspor dan investasi masing-masing sebesar Rp. 20 milyar :

M = + = +

Ekspor neto yang baru : (Xo – Mo) + (X - m)
= (10 – 0) + (20 – 16)
= 14 (SMU)


A. ESSEI

1. Terangkan apakah yang dimaksud dengan : (a) neraca perdagangan yang aktif, (b), angka pengganda perdagangan luar negeri, (c) ekspor neto, (d) keseimbangan intern, (e) marginal propensity to import.

2. Sebutkan semua variabel ekonomi yang diperhatikan dalam model analisis ekonomi terbuka tanpa kebijakan fiskal dan di mana dalam model tersebut hanya pasar komoditi saja yang diperhatikan.

3. Tunjukan semua unsur-unsur pendapatan nasional untuk perekonomian terbuka dimana terdapat transaksi fiskal pemerintah!

4. Secara matematik turunkan rumus-rumus yang dapat dipergunakan untuk menghitung: (a) besarnya pendapatan nasional equilibrium, (b) angka pengganda investasi, (c) angka pengganda intersep saving, (d) angka pengganda intersep impor, semuanya untuk perekonomian terbuka tanpa kebijakan fiskal!

5. Tunjukan perbedaan dampak total perubahan ekspor dengan dampak total perubahan investasi terhadap surplus atau defisitnya neraca pembayaran!

6. Uraikan, tentang konflik antara keseimbangan ekstern dengan keseimbangan intern!

7. Misalnya dengan maksud mempercepat laju pertumbuhan ekonomi, pemerintah berusaha menaikkan besarnya investasi dengan jumlah sebesar 100, yang sebelumnya hanya sebesar 400. Apabila target investasi tersebut terealisir, tunjukkan dampak kenaikan investasi tersebut terhadap neraca perdagangan negara RI. Tunjukkan perhitungan-perhitungan yang mendasari jawaban saudara!

8. Perekonomian negara K mempunyai data sebagai berikut :
a. fungsi saving : S = 0,15Y – 200
b. fungsi impor: M = 0,1Y + 100
c. pengeluaran investasi: I = 400
d. ekspor: X = 300
Berdasarkan data tersebut hitunglah besarnya nilai-nilai equilibrium : (a) pendapatan nasional, (b) saving, (c) impor, (d) konsumsi, (e) neraca perdagangan.

2 comments: